PESANTREN PERSIS 91 :
Jl. Bantargedang Sukamulya Bungursari Kota Tasikmalaya 46151 Telp. 0265 321709 - MTs : 081323389877 - MA/Mln : 085220023056 :: E-Mail : persis91tsm@gmail.com
Beranda » , » Menjadi Guru yang Persuasif dan Kreatif

Menjadi Guru yang Persuasif dan Kreatif

Ditulis oleh Pesantren Persis 91 Tasikmalaya hari/Tgl Senin, 14 Maret 2011 | pkl 23:00 WIB

Share on :

Oleh : Dani Hidayat

Pada dasarnya, manusia sebagai guru dimata siswa terbagi pada 2 (dua), yaitu guru wajib dan guru haram. Sebagaimana dikemukakan oleh Cipto Utomo, S.Sos dalam Diklat Nasional Revolusi Mengajar Berbasis NLP (Neuro Lingusitic Programming) pada tanggal 27 Desember 2009 di Kota Tasikmalaya. Guru wajib adalah guru yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh siswa sedangkan guru haram adalah guru yang kedatangannya tidak diharapkan sama sekali oleh siswa bahkan ketidakhadirannya menjadikan siswa senang, tentunya ini sangat tidak diharapkan bagi kita selaku guru.

Untuk menjadi guru yang disenangi dan ditunggu-tunggu oleh siswa, menjadikan ilmu yang diajarkan mudah diterima serta siswa menyenangi pelajaran yang diikutinya, diperlukan metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif.

Salah satu metode yang inovatif adalah persuasi, yaitu influence yang dibatasi dengan hanya menggunakan komunikasi baik verbal maupun non verbal.

Proses influence yaitu mempengaruhi orang lain dengan menggunakan apa saja dengan alat apa saja, misalnya: ancaman, teror, tekanan, siksaan, dan sebagainya. Sedangkan proses persuasi yaitu mempengaruhi orang lain atau membuat perilaku orang lain berubah sesuai dengan keinginan kita dengan menggunakan komunikasi.

Didalam pelaksanaan proses persuasi yang dinamis terdapat beberapa tahapan antara lain :

1. Pre Conversation
Pada tahap ini pembicaraan belum dimulai tetapi baru memanfaatkan bahasa tubuh (body language), seperti: tersenyum (smile), buka kedua tangan (open posture), condongkan tubuh (forward lean), sentuhan (touch), menatap matanya (keep/eye contact), anggukan kepala (Nod), dan sebagainya.

2. Conversation
Pada tahap ini guru mulai membangun suasana dengan komunikasi verbal dengan cara menyapa terlebih dahulu dan diikuti pertanyaan-pertanyaan "ritual" yang dilakukan sebagaimana umumnya dengan tujuan mendapatkan respon empati dari siswa.

3. Body Language
Pada tahap ini lebih mengutamakan bahasa bawah sadar dengan dinamika ekspresi wajah, gerak kepala dan mata, dinamika gerak tubuh, tangan dan kaki, dan dinamika nada dan kecepatan berbicara.

4. Attraction Secrets
Untuk menghidupkan suasana proses belajar mengajar dibutuhkan atraksi-atraksi yang dapat menggugah emosional siswa dengan cara mengambil inisiatif awal, menyebarkan "happy" virus yang dimaksudkan untuk membuat keadaan senang dan tidak merasa tertekan dan terbebani, mendengarkan siswa bila ada yang mulai bicara dan tentunya disertai dengan menggunakan body language (bahasa tubuh).

Sistem Preperensi
Untuk memudahkan siswa menerima pelajaran yang diajarkan selain dengan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai, guru juga dituntut untuk mengetahui karakter belajar siswa atau dikenal dengan istilah sistem preperensi (Preperred System).

Preperred System yaitu pada umumnya siswa memiliki salah satu indera yang "lebih cocok" untuk menerima suatu ilmu pengetahuan (pelajaran). Sistem Preperensi ini berpengaruh bersar pada cara berpikir. Sistem ini berada pada sekitar mata, telinga dan sentuhan/perabaan, bau, rasa dan gerak. Informasi yang masuk akan lebih mudah diserap dan dipahami jika masuk melalui preperred system-nya.

Karakter siswa berdasarkan Sistem Preperensi terdiri dari:

1. Pembelajar Visual
Pembelajar visual mudah menerima ilmu lebih kepada akses citra visual yang diciptakan maupun diingat dan lebih tertarik kepada warna, bidang, ruang, potret dan gambar. Ciri-cirinya antara lain:
• Teratur, memperhatikan banyak hal, menjaga penampilan.
• Berbicara dengan cepat.
• Mengingat dengan gambar, suka membaca daripada membacakan.
• Mengingat apa yang dilihat.

2. Pembelajar Auditori
Pembelajar auditori ini menerima ilmu melalui segala jenis bunyi dan kata-kata yang diciptakan maupun diingat serta lebih tertarik pada musik, nada, irama, suara dan dialog. Ciri-cirinya adalah:
• Perhatian mudah pecah dan berbicara dengan pola berirama
• Belajar dengan cara mendengarkan, menggerakkan bibir, bersuara saat membaca.
• Berdialog secara internal dan eksternal.

3. Pembelajar Kinestetik
Pembelajar kinestetik lebih didominasi oleh segala jenis gerak dan emosi (rasa) yang diciptakan maupun diingat, lebih tertarik kepada gerakan, sentuhan, peradaban, tanggapan emosional dan kenyamanan fisik. Ciri-cirinya adalah:
• Menyentuh, berdiri berdekatan, banyak bergerak.
• Berbicara lambat dan berat.
• Belajar dengan melakukan, menunjuk ketika membaca, merespon secara fisik.

Untuk mempermudah memasukkan komunikasi dan memfasilitasi proses belajar (memahami dan mengingat) bisa dilakukan dengan memperhatikan ucapan (linguistic), bahasa tubuh (body language) dan gerak mata (eye cues). Ciri-ciri cara belajar, antara lain:

1. Ketika mengekspresikan diri
a. Pembelajar Visual, sering menggunakan kalimat, seperti: saya lihat, saya bisa lihat gambarannya, mari kita soroti hal ini bisa saya gambarkan dan sebagainya.
b. Pembelajar Auditori, sering menggunakan kalimat, seperti: kedengarannya bagus, aku mendengarkan kamu, pendapat anda tidak bunyi, seperti ada yang memberitahu saya, tiba-tiba saja semuanya terasa klop dan sebagainya.
c. Pembelajar Kinestetik, sering menggunakan kalimat, seperti: rasanya begitu, saya meraba-raba jawabannya, hal itu sudah saya pegang, perlu contoh kongkret dan yang lainnya.

2. Ketika sedang belajar
a. Pembelajar Visual
Lebih menyukai membaca, melihat teks, gambar, diagram dan mensketsanya.
b. Pembelajar Auditori
Lebih suka diberitahu, mendengarkan kuliah dan berdiskusi.
c. Pembelajar Kinestetik
Lebih suka terlibat praktek langsung, mencoba-coba, menuliskan catatan.

Dengan diketahuinya ketiga karakter cara belajar siswa yaitu Visual, Auditori dan Kinestetik ini para guru tentunya akan lebih tahu metode apa yang paling efektif untuk diterapkan pada siswa dan yang terpenting proses influence dapat tergantikan oleh persuasi yang lebih menitikberatkan pada kesenangan siswa dalam belajar.
PESANTREN PERSIS 91 TASIKMALAYA

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. Pesantren Persis 91 - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger